Ungkapkan Dengan Tulisan

oleh Lilian Gunawan

‘Menulis adalah pekerjaan keabadian’….Pramoedya Ananta Toer

Pernah ada satu penulis yang mengatakan hal yang senada ketika diwawancara oleh salah satu redaksi majalah wanita. Katanya, dia ingin tetap dikenang dari tulisan-tulisannya jika telah tiada. Tulisan itu menjadi kenang-kenangan untuk semua yang pernah mengenalnya. Saya pikir, benar juga. Tulisan-tulisan kita akan tetap abadi sepanjang masa, apalagi jika dibaca oleh orang-orang yang pernah dekat dan kenal dengan si penulis.

Mei 2013, seorang teman lama yang dulu menjadi mentor saya dalam korespondensi dengan sahabat pena sejak kelas 6 SD, mengilik-ngilik untuk mengisi blog-nya, http://www.patahtumbuh.wordpress.com.   Betul-betul tidak pe de untuk kembali menulis setelah vakum hampir 10 tahun. Tantangan ini memenuhi pikiran saya karena dikilik terus, so…..debut pertama, ternyata bisa juga saya selesaikan satu tulisan tentang perkembangan anak dan sang editor, siapa lagi kalau bukan si pemilik blog, membantu memoles tulisan itu menjadi layak untuk diunggah ke blog.

Tulisan pertama direspons dengan cukup baik dan menjadi pemicu semangat untuk menulis lagi, lagi dan lagi. Rasa pe de itu terus bertambah dan kepala saya selalu penuh dengan berbagai ide untuk dituangkan dalam tulisan. Yang jadi masalah adalah kapan dan di mana saya bisa menulis dengan tenang tanpa banyak gangguan. Akhirnya, saya harus akui sudah menjadi  pecandu, candu menulis. Ahaaaa….

Saya ingat, mulai menulis sejak kelas 6 SD karena punya beberapa sahabat pena. Belajar menulis surat dan berbagi cerita dalam bentuk tulisan. Korespondensi berlangsung terus sampai saat kuliah. Selain itu, kegiatan menulis mau tidak mau harus tetap dilakukan karena tugas karya tulis ketika kuliah. Tahun 80an, untuk menyelesaikan satu tugas, saya harus blusukan di perpustakaan mencari bahan referensi dan menerjemahkan sendiri karena textbook kebanyakan masih dalam bahasa Inggris.  Kebiasaan mengerjakan karya tulis ternyata sangat membantu saya dalam menyusun tulisan seperti yang dikerjakan sekarang ini.

Menulis membantu saya meredakan emosi, menjadi pelampiasan ide-ide yang membludak di kepala, menjadi sarana mengusir sepi, dan pastinya mendorong saya untuk lebih banyak browsing dan membaca sebelum saya menulis karena saya juga butuh referensi sebelum menuliskan sesuatu khususnya yang menyangkut fakta dan hasil penelitian tentang topik yang  sedang saya tulis. Kegiatan menulis bersifat terapeutik karena dapat membantu kita menyampaikan banyak hal yang kadang tidak mampu kita utarakan secara verbal. Rasanya lega sekali jika uneg-uneg sudah dikeluarkan, meskipun dalam bentuk tulisan dan tidak ada orang yang membaca. Contoh paling umum, kadang kita malu sewaktu ingin menyampaikan isi hati  secara verbal, kata-kata yang tersusun rapi di otak tidak bisa diucapkan dengan lancar, suara jadi tercekat. Cobalah sampaikan dalam bentuk surat, karena isi hati akan lebih nyaman jika dituangkan dalam bentuk tulisan. Saya kerap menggunakan tulisan untuk sarana menyampaikan uneg-uneg atau keluhan kepada pasangan jika ada hal-hal yang tidak berkenan dan mengganggu hubungan kami. Semuanya saya tumpahkan dalam bentuk tulisan dan dikirim via email ke si dia. Emosi akan lebih terkontrol jika saya sampaikan dalam bentuk tulisan daripada secara verbal. Si dia juga punya waktu dan ruang untuk membaca dan mencerna isi tulisan itu. Jika disampaikan secara verbal, lebih sering terjadi adu argumentasi sebelum seluruh uneg-uneg disampaikan tuntas. Akhirnya emosi sama-sama meluap dan keadaan makin runyam.

Selama ini saya mengisi  waktu dengan membaca dan membaca. Semua isi bacaan (informasi dan insight) akhirnya cuma diendapkan sendiri dan untuk kepentingan diri sendiri saja. Dengan  banyak membaca , saya menjadi mengerti banyak hal, dari hal yang paling sepele soal bagaimana mencuci baju yang benar untuk bahan tertentu, apa efek samping obat A, apa dan bagaimana suatu penyakit menjadi memburuk (saya jadi mudah mencerna apa yang dikatakan dokter ketika membacakan diagnosa penyakit) sampai pada topik yang njelimet. Sekarang, saya punya kesempatan untuk membagi apa yang sudah saya serap dari bacaan dan info-info itu, yang pastinya berguna bagi orang lain juga.  Terlebih bila mendapat respons dan komplimen dari orang yang membaca tulisan saya, rasanya semua waktu dan pegalnya pundak ketika menyusun dan mengetik tulisan itu tidak terbuang sia-sia. Lama kelamaan menjadi blog-acholic deh. (Per mid September 2013, blog patahtumbuh telah mencapai 2200an hits, beyond our expectation)

Blog patahtumbuh menjadi pos dan ajang memoles kemampuan menulis saya karena menulis adalah salah satu dari sekian banyak obsesi yang terpendam  dan akhirnya tersalurkan setelah kilikan manjur sohib saya. High five, Rose…….

Bagaimana Memulai Menulis?

Terus terang, saya pribadi tidak pernah ikut kursus menulis atau ditatar secara khusus oleh pakarnya.  Semuanya otodidak dan dibantu oleh teman-teman yang proofread draft tulisan saya dan memberi masukan untuk editing. Ada beberapa poin yang dapat saya sharing di sini, meskipun saya bukan seorang pro dan tulisan saya belum untuk tujuan komersil.

  1. Sediakan waktu khusus untuk duduk tenang dan tidak banyak gangguan . Apakah itu di hari libur atau malam hari ketika tugas rutin sudah selesai.
  2. Tuliskan apa saja yang terlintas di kepala, semua yang ingin anda sampaikan, tanpa jeda untuk editing. Tulis dan tulis saja semua yang mengalir dan biarkan jari menari di atas keyboard komputer atau tablet.
  3. Ide topik bisa didapat dari mana saja. Saat menyetir dan melihat kelakuan orang-orang di jalanan, saat antri di bank, curhat teman, dari koran dan sebagainya. Setiap peristiwa kadang mengundang kita untuk bereaksi. Tuangkan reaksi itu dalam bentuk tulisan, apakah itu pendapat pribadi ataupun fakta yang dikumpul dari sumber yang dapat dipercaya.
  4. Menulislah seolah-olah anda sedang berbicara dengan seseorang, karena ini adalah jenis happy writing, agar tidak terkesan kaku seperti mengerjakan karya tulis untuk  tugas sekolah/kuliah.
  5. Setelah semua yang ada di kepala tertuang dalam bentuk tulisan,  baru baca ulang dari awal  untuk menemukan kejanggalan dalam pemilihan kata atau kesalahan ketik. Anda mungkin akan menemukan kata-kata yang berulang dan terasa mengganggu (redundant words). Ini juga saat untuk editing bagian yang mungkin tidak perlu atau tidak relevan.
  6. Baca lagi hasil editing pertama dan edit kembali kalau dirasakan masih kurang pas bahasa atau alurnya tidak teratur. Kuncinya adalah baca-edit-baca-edit.
  7. Minta bantuan teman dekat (yang suka membaca) untuk membaca dan memberikan masukan bagian mana yang dirasakan masih perlu diperbaiki.
  8. Mengenai pemilihan kata, tentukan dulu target pembaca kita. Apakah kita menulis untuk kelompok ABG (jadi bahasa harus gaul) , kelompok ibu-ibu atau untuk umum atau hanya untuk pribadi. Yang penting, tulislah dengan gaya bahasa yang mudah dicerna dan menarik agar orang tidak bosan membaca tulisan sampai kalimat terakhir.
  9. Untuk setiap tulisan,  sertakan opini sendiri. Jadi bukan hanya membeberkan fakta dan hasil penelitian atau pendapat ahli mengenai suatu topik.
  10. Jangan sibuk membandingkan tulisan anda dengan tulisan orang lain. Setiap orang memiliki ciri khas dan gaya menulis masing-masing.
  11. Menulislah karena benar-benar ingin menulis, bukan karena saya ingin tulisan saya dimuat agar mendapatkan bayaran. Untuk penulis pemula, hal ini akan menjadi semacam tekanan karena ada target. Tulisan yang berkualitas akan dilirik oleh orang lain dan suatu hari nanti akan datang tawaran yang menghasilkan uang.

Menurut saya, tulisan yang menarik bukan dilihat dari canggih tidaknya kata-kata yang dipergunakan, tapi lebih pada ada tidaknya jiwa dalam tulisan itu. Ketika membaca, kadang kala kita dapat merasakan seolah-olah orang yang menulis itu ada di depan kita atau mampu membuat  kita  tersenyum sendiri karena tulisan begitu hidup dan memikat. Seolah-olah kita berada pada situasi yang ada dalam tulisan itu. Terasa begitu dekat dan melekat.

Saya suka membaca tulisan Samuel Mulia yang hadir setiap Minggu di Kompas dalam rubrik Parodi. Senyum selalu tersungging membaca tulisannya karena sangat menarik dan sering kali menyentil. Tulisan Rene Suhardono di rubrik Ultimate U, harian Kompas , setiap Sabtu. Andrei Aksana untuk kutipan dan puisi cintanya di twitter.  Tulisan tentang kesehatan dari Dr. Tan Shot Yen juga sangat menarik. Ringan dan informatif.  Salutasi editor-in-chief majalah MORE, Candra Widanarko, di setiap edisi, selalu menarik untuk dibaca. Gaya tulisan dan ide yang disampaikan sangat menarik dan hidup. Itu beberapa contoh  penulis-penulis  favorit saya yang  tulisannya selalu saya tunggu.  Jadi sedikit banyak, saya mengacu pada gaya menulis mereka dan berharap tulisan saya  juga tidak membosankan dan memiliki jiwa.

Berhubung saat ini tidak punya banyak waktu untuk membaca karya fiksi, saya ketinggalan banyak cerita novel menarik dari penulis-penulis favorit saya dulu. Yang bisa saya nikmati sekarang hanyalah beberapa tulisan dan artikel pendek di media cetak atau online. Membaca dan menulis membuat hidup saya lebih fun dan semoga menjauhkan saya dari kepikunan karena otak terus bekerja dan mengolah informasi. Yang membuat saya merasa lebih bahagia, saat ini saya (mampu) kembali menulis and become so addicted, seperti saya addicted to coffee ……………some more coffee, please.

Iklan

2 pemikiran pada “Ungkapkan Dengan Tulisan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s