SI RUPAWAN YANG CERDAS

oleh Rose Chen

Seorang teman nyeletuk ketika kami sedang sarapan di salah satu kedai di Medan,”Heran, mengapa banyak wanita cantik yang menderita? Cantik tapi tidak beruntung? Lihat! Secantik itu tapi akhirnya hanya jadi tukang masak kwetiau goreng.”

Apakah benar begitu? Benarkah hidup si Cantik tidak beruntung? Lebih penting lagi, mengapa menghubungkan kecantikan dengan penderitaan dan keberuntungan? Apakah dia memang tidak beruntung atau tidak cukup cerdas?

Kata orang, cantik itu subjektif, relatif. Beauty is in the eyes of the beholder. Mungkin, tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa hampir semua orang setuju siapa yang cantik dan siapa yang tidak. Kita dilahirkan dengan kemampuan menilai seseorang itu menarik atau tidak. Bayi memandang lebih lama, mau bermain dan lebih menyukai orang yang wajahnya kita anggap lebih menarik dan menangis bila melihat wajah yang mengerikan. Bayi pasti jujur bukan? (Pernah dilakukan penelitian pada pertengahan tahun 1980an)

Secara umum, perempuan yang dinilai cantik adalah yang memiliki tulang pipi tinggi, mata  besar, bibir penuh dan hidung yang mancung. Laki-laki dicap ganteng bila memiliki rahang dan dagu yang kokoh. Kedua jenis kelamin dinilai enak dipandang bila memiliki kulit yang bersih dan halus, wajah yang simetris, rambut yang indah mengkilat.

Hasil Penelitian Pakar

  1. Si Rupawan dengan wajah simetris, lebih sehat dari orang dengan wajah yang tidak simetris. (Penelitian oleh Departemen Psikologi, University of Western Australia akhir tahun 1990an.)
  2. Si Rupawan lebih cerdas. (Penelitian Departemen Psikologi, University of New Mexico, Amerika tahun 2004)

Ada dua kemungkinan mengapa si Rupawan lebih cerdas.

  1. Secara genetik, orang yang sehat umumnya lebih rupawan dan cerdas.
  2. Laki-laki dari status sosial lebih tinggi, wajah lebih ganteng, menikahi wanita cantik. Karena kecakapan dan kecerdasan diturunkan, maka anak-anak mereka elok dan cerdas.

National Child Development Study (NCDS) melakukan penelitian terhadap semua bayi yang lahir dari tanggal 3 – 9 Maret 1958 di Inggris, Wales dan Skotlandia, kemudian melakukan surveilans terhadap mereka selama lebih dari 50 tahun. Pada usia 7 dan 11, guru anak-anak ini diminta mendeskripsikan penampilan fisik mereka untuk melihat hubungan antara tampilan fisik dan kecerdasan. Oleh guru-guru ini, 62 persen anak dikategorikan menarik. Pada usia 7, 11 dan 16, kecerdasan mereka diukur dengan 11 jenis tes kognitif. Dari semua data survei dengan cakupan luas, NCDS memiliki tes intelijensi terbaik. Hasilnya adalah anak yang lebih rupawan memiliki IQ yang lebih tinggi.

Hasil penelitian oleh London School of Economics adalah laki-laki ganteng memiliki IQ lebih tinggi 13,6 dari rata-rata. Wanita cantik memiliki IQ 11,4 lebih tinggi dari rata-rata.

Hampir semua orang tahu ada hubungan yang sangat erat antara pendidikan dan intelijensi, tetapi tidak menyadari bahwa tampilan fisik mempunyai hubungan yang tidak kalah eratnya dengan intelijensi. Jika anda tidak tahu seberapa cerdasnya seseorang, anda bisa bertanya sampai di mana pendidikannya. Begitupun, sering karena berbagai hal, seseorang yang cerdas tidak berpendidikan tinggi. Pada saat seperti ini, anda dapat menduga kecerdasannya dari penampilan fisiknya.

Kembali ke pertanyaan awal, apakah wanita cantik tidak beruntung? Mari kita lihat.

1. Si Rupawan biasa mendapat perlakukan lebih baik karena dianggap lebih menarik, lebih dapat dipercaya dan lebih kompeten. Tidak percaya? Pergilah ke dealer mobil tanpa berdandan, lihat bagaimana mereka memperlakukan anda, kemudian datanglah beberapa hari lagi dengan pakaian keren dan make up. Perhatikan perubahan sikap orang terhadap anda. Berdandan (yang sewajarnya) jelas membuat seseorang lebih menarik.

2. Si Rupawan lebih mudah berkomunikasi, lebih disukai, karena itu lebih jarang kesepian.

3. Sewaktu kita berhubungan dengan orang yang cerdas dan baik, kita bisa menilainya sebagai charming, ini disebut efek halo (disebut demikian oleh Psikolog Edward Thorndike). Pertanyaannya, apakah memang karena dia cerdas dan baik, maka kita menilai dia charming atau karena dia MEMANG charming?

Banyak lelucon tentang orang rupawan yang bodoh. Kita juga sering menemukan orang super genius yang jelek. Menurut saya, wanita penjual kuetiaw goreng tidak dapat dikatakan tidak beruntung karena kita tidak mengetahui latar belakang kehidupannya. Bila masa lalunya lebih susah, maka dia bisa dikatakan beruntung. Bila sebelumnya kehidupannya sangat baik dan kemudian dia menikah lalu menjadi menderita karena harus bekerja keras untuk hidupnya, ada dua kemungkinan, dia tidak cerdas atau dia tidak beruntung.

seto0uh

Jadi, apakah “Beauty is in the eyes of the beholder” masih berlaku? Tentu saja. Tapi yang jelas, pikir ulang sebelum menggunakan kalimat “Beauty is only skin deep” bila anda tidak tahu pasti artinya. Kecantikan dari dalam tetap disebut ‘beauty’ walaupun anda pasti tidak akan mengatakan seseorang yang seluruh kulitnya terkelupas ‘cantik’.

Sumber :

Psychology Today

Beauty – Psychology Today

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s