SENANDUNG NATAL YANG TIDAK BIASA – 5 hari menjelang 2015

oleh Rose Chen

Empat bulan yang lalu, saat youtube dibanjiri video klip orang-orang yang melakukan ice bucket challenge, saya menulis mengenai Amyotrophic lateral sclerosis (ALS) di sini. Saya pribadi belum pernah berbicara langsung dengan orang yang pernah kena penyakit ini hingga kemarin saat kami menghadiri acara natal gereja di salah satu perguruan tinggi Taiwan.

Pada akhir acara, seorang pria setengah baya berjalan bersama sepasang anak muda. Mereka bersama-sama mendorong kursi roda yang diduduki oleh seorang wanita setengah baya naik ke panggung yang pinggirannya ditata sehingga dapat dilalui kursi roda. Melihat wanita itu, yang pertama saya duga adalah orang yang lumpuh karena stroke atau kecelakaan. Alangkah kagetnya saya ketika pria yang ternyata adalah suaminya mengatakan dalam kesaksiannya bahwa istrinya terkena ALS dua tahun yang lalu. Ibu ini sebelumnya adalah wanita yang sangat aktif dalam kegiatan sosial. Pada suatu hari dia merasa heran mengapa saat berdansa yang biasanya dia lakukan dengan mudah, kali itu kakinya seperti tidak mau bekerja sama dengan otaknya. Hari demi hari berlalu, berbagai dokter maupun sinshe telah mereka kunjungi tanpa hasil. Anak mereka yang wanita berhenti kuliah demi menemani ibunya di rumah. Hanya dalam waktu dua tahun, ibunya dari seorang wanita aktif, kini hanya mampu menggerakkan satu jarinya. Di kala kepalanya tertunduk, dia tidak sanggup mendongakkannya sendiri, harus dibantu dengan dorongan ringan dari orang yang menjaganya. Suami yang bercerita di atas panggung dengan suara bergetar dan terbata-bata sungguh membuat hening suasana. Ibu itu  sendiri hanya duduk diam tetapi matanya terlihat bersinar menandakan otaknya bekerja penuh. Semua orang di bawah panggung meneteskan air mata.

48f5cac74a361c815ed8f247fa49e57d

sumber : bloglovin.com

Ketika acara usai, saya mendekati keluarga kecil itu dan bertanya kepada anaknya, apakah saya boleh memeluk ibunya. Setelah mendapat ijin, saya memeluk sambil berbicara dengan suara rendah kepada ibu itu. Semua panca inderanya tidak mengalami gangguan, tapi dia tidak mampu membalas ucapan atau pelukan saya. Dia hanya bisa mengeluarkan suara yang awalnya seperti tidak ada artinya di telinga saya, tapi perlahan-lahan saya merasa ada komunikasi tanpa bahasa. Saya memeluknya, memegang tangannya, dia mengaitkan satu jarinya ke tangan saya, memandang saya selama saya berbicara atau mengeluarkan suara seperti sedang menjawab saya. Saya mengatakan kepadanya bahwa saya mendoakan agar dia kuat, bahwa dia orang yang berharga, bahwa dia dicintai oleh banyak orang, keluarga, teman, orang lain yang tidak dia kenal, dan terutama oleh yang Maha Kuasa. Saya membisikkan, bahwa dia tetap mampu melakukan sesuatu dalam ketidakberdayaannya, dia menjadi inspirasi bagi banyak orang. Dan saya mendengar suara saya terpantul kembali ke dalam hati saya, untuk saya melalui bunyi-bunyian yang keluar dari mulutnya yang bagi saya, terdengar seperti nyanyian natal….

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s